Sampai hujan berhenti, aku tak kunjung mengerti.
Antara sudah dan tak mau pergi. Dan bayanganmu yang tetap di sini.
Angin menelantarkan rindu, pahit jadi candu.
Kalau pelabuhanmu ada padanya, dia harus kusimpan dimana?
#my poems
… lalu kulihat bayangmu menjauh, langkahmu terempas waktu
maka pada persimpangan yang manakah asaku kembali muncul bersamaan dengan wajahmu yang tak lebih dari samar?
maka pada persimpangan yang manakah nasib mengizinkanku sekedar menyentuh ruang udara yang sama denganmu?
maka pada persimpangan yang manakah jiwa yang terbelah merasakan utuh?
… lalu tangis berderai. kenangan terurai.
maka pada persimpangan yang manakah semuanya dapat terisi kembali seperti waktu itu, seperti ketika jejakmu masih kudengar dan rinduku tak diacuhkan?
maka pada persimpangan yang manakah,
akan kudapat kembali senyummu?
seperti dulu. kala itu.
#my poems
sadgenic:
Setiap tempat yang kita pijak selalu menjadi istana. Kamu, Pangeran waktu. Detik bersamamu, singgasanaku.

(Source: sadgenic)
Tchaikovsky
dalam larik garis bibirmu atas nama matahari
bersama denting sonata dalam sunyi
yang kau mainkan untuk rinduku malam ini
aku tidak tahu. aku tidak kenal mereka
namun membawakannya padaku serupa indah nirwana
lalu setelah semuanya
lelah yang terpejam, air mata yang tenggelam
terkalahkan esok pagi tanpa elegi
karena hari ini
kemudian larik garis bibirmu mengungkap satu
kau ada, nyata, namun tak teraba
"You are my favorite December, and I’m January but we both on the same calendar."
Something About Lola’
“Jangan orang yang kucintai,”
namun permohonanku ditertawakan langit.